CARA MUDAH MEMPELAJARI BAHASA SERAWAI

BAHASA SERAWAI ADALAH BAHASA ASLI TANAH BENGKULU MASIH BANYAK BAHASA LAINYA YANG ADA DI TANAH BENGKULU SEPERTI BAHASA REJANG DAN BAHASA MELAYU NAMUN YANG SAYA KUASAI HANYA BAHASA SERAWAI WALAUPUN HIDUP DI TANAH RANTAU TETAP MENJUNJUNG TINGGI TRADISI DAN ADAT ISTIADATNYA

Sabtu, 15 Desember 2012



Abang = merah
Agas = nyamuk
Aghapan = Harapan
Aiak = air
Ajung = suruh
Akap = pagi
Alap = bagus
Amun = saat
Andai-andai = dongeng
Angat = hangat
Angit = bau yang tak sedap, gosong
Anjung = pondok
Anyigh = amis
Asau = rasa
Ati = hati
Awangan = jendela
Awu = iya
Babat = memukul dengan benda
Baghi = dulu, lampu
Bai tangan = ibu jari
Bak = kotak
Bal = bola
Baliak = pulang
Balung = paha
Batak = bawa
Batan = untuk, bahan
Bebilang = berhitung
Bedalak = mencari
Bediau = ada
Begabus = bohong
Begelut = bermain
Beghangan = masak
Beghijau = musyawarah
Beghuak = monyet
Beghukal = telur yang tak menetas walaupun sudah dierami
Beghusiak = bermain
Bejeghum = mengabari, mengajak
Bejigak = sibuk
Bejigat = bermain
Bejijiah = ngomel
Bekayu = = singkong
Belagak = cantik, bagus
Belagau = berkelahi
Belagham = penurut, rajin
Belangau = kuali
Bengkaghung = kadal
Berayak = jalan-jalan
Beringgak = bersiap-siap
Besak = besar
Betegak = berdiri
Betunggal = berkumpul
Bigal = bodoh
Bimbang = acarah kesenian daerah
Bucur = mencret
Budak = masih muda
Buluah = bambu
Bungin = pasir
Buntang = bangkai
bupit = lemari
Buyan = bodoh
Cangkuk manis = katu
Cecirut = oleh-oleh
Cekatan = rajin
cekugh = kencur
Cintung = sendok besar terbuat dari kayu
Cungak = melihat ke atas
Dang = sebutan kakak tertua laki-laki
Dendan = tempat jemuran
Depatka = jemput
Dighi = kamu (untuk orang yang lebih tua)
Duaghau = pintu
Embak = sebesar, saat
Endalak = mencari
Endiak = tidak
Enggelang = cacing tanah
Gaghang = teras
Galak = mau
Galau = semua
Gauk = teriak
Gedir = dahak
gegal = tai hanyut
gendulau = kisik
Gerintung = gantung
Gerpu = pisau kecil
Ghadu = sembuh
Gheban = kandang
Gheghadu = istirahat
Gheghenyai = gerimis
Ghungau = ingin tidur karena kurang tidur
Ghunia = pelangi
gudu = botol
Gumbak = rambut
Ibat = bungkus
Ibau = suka
Ibik = bebek
Ijang = hijau
Ijat = biji
Ikan Ghuan = ikan gabus
Ikuak = ekor
Iluak = baik
Iluaklah = lebih baik
Ingugh = ingus
Ipun = ikan kecil
Itam = hitam
Iyak = batuk
Jak = dari
Jambat = jembatan
Jatah = bagian
Jeghing = jengkol
Juada = kue
Kaba = kamu, engkau
Kaput = babi
Katigh = jangkrik
Katil = tempat tidur(dipan)
Katup = tutup
Kebat = = ikat
Kebilau = kapan
Kebual = pipi
Keciak = kecil
kekughan = alat pemarut
Kelau = nanti
Kelayau = genjer
Keleman = gelap
Keli = lele
Keliki = pepaya
Kemiah = BAK
Kemughu = gala
Keritangin = sepeda
Ketam = kepiting kecil
Keting = kaki
Kidau = kiri
Kinak = lihat
Kuau = kabau
Kudai = sebentar
Lading = pisau kecil
Lakagh = rumah yang belum jadi
Lambing = kebesaran
Languak layau = sombong
Lapiak = alas
Lemak = enak
Lengit = hilang
Lepang = timun
Ligat = putar
Ligham = kurang waras
Liji = lambat (bertele-tele)
Limau = jeruk, lima
Lindap = teduh
linggugh = walu
Litak = capek
Luak = mirip
Lukak = oleh-oleh
Luluak = mirip, seperti
Luyak = lembek
Majuah = makan
Mangku = supaya, agar
mangkuak = cangkir
Mangut = roman muka kesal
Mbubus = mengeringkan
Meghung = banyak
Mekiak = teriak
mekung = BAB
Mela = ayo
Menda = tamu
Merempah = membuat bumbu
Mighis = bocor
Mulik = berbaring
Muni = bunyi
Nambuah = nambah
Ncerutam = roman muka kesal
Ndaki = mendaki
Nebas = merambah hutan
Netak = memotong
Ngajung = nyuru
Ngarit = panen padi
Ngeghuah = mendengkur
Ngenian = nyata
Ngenjalugh = menginginkan sesuatu tapi tidak tercapai
Nggup = tidak mau
Nginak = melihat
Ngucak = memegang
Ngusigh = memaksa ikut
Nidau = tidak
Nitiak = netes
Niugh = kelapa
Njejul = membakar, menyulut
Njulur = merentangkan kaki
Nyalatan = keras kepala
Nyambugh = berserakan, berhamburan
Nyanting = pacaran
Nyelah = iya
Nyempit = mengeluh
Nyentul = timbul
Nyerilau = mau
Nyesah = mencuci pakaian
Nyilap = membakar, menyulut
Nyindat = selesai
Nyipak = menendang
Pagi = besok, pagi
Pak uncu = paman
Palak = kepala
Pangkugh = cangkul
Pedau = terlalu asin
peghiau = pare
Pekan = pasar
Pentuk = memukul pakai benda
perenggi = labu kuning
Pesuak = bolong
Picit = pencet
Pinggan = piring
Pucuak = bagian atas
Pulau = juga, pulau
Ragi = warna
Rami = ramai
Ranggian = alat
Rekisan = surat pendek
Renjiah = agresif
Ribang = naksir, suka
Rubuah = jatuh, tumbang
Rull = mistar
Sanak = saudara
Sangsilau = pepaya
Sarau = miskin
Sedut = malas
Seghikil = keseleo
Sekul = sekolah
Senandutan = pacar
Senjitu = dulu
Seragi = sama
Serasan = serius
Serekai = barang-barang
Serempak = bersama-sama
Serik = miskin
Setuau = harimau
Setum = mobil
Sikuak = seekor
Silau = ubi jalar
Singgah = mampir
Sughang = sendiri, seorang
Sutiak = satu(menyatakan banyak)
Taghuak = sayur
Tajung = kain sarung
Tanci = uang
Tandang = main kerumah
Taruaklah = anggaplah
Tebat = kolam
Tegesur = terpeleset
Teghughus = longsor
Tekedan = keadaan mendesak
Tekedan = putus asa
Tekelap = tertidur pulas
Telabuah = jatuh
Temalam = bermalam
Tembilang = linggis
Tetak = potong
Tiduak = tidur
Tighau = jamur
Tijak = injak
Tinau = wanita
Tinggang = timpa
Tuapau = apa
Tukul = palu
Tumban = jatuh
Tunjuak = telunjuk
Udim = selesai
Ulang Pepat = berulang kali
Umau = huma (ladang yang ditanami padi)
Umban = jatuh
Uncu = bibi
Wak = sebutan saudara pertama orang tua
Wi = rotan

Senin, 10 Desember 2012

== Sejarah ==
Asal-usul suku Serawai masih belum bisa dirumuskan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk-bentuk publikasi lainnya. Asal-usul suku Serawai hanya diperoleh dari uraian atau cerita dari orang-orang tua. Sudah tentu sejarah tutur seperti ini sangat sukar menghindar dari masuknya unsur-unsur legenda atau dongeng sehingga sulit untuk membedakan dengan yang bernilai sejarah. Ada satu tulisan yang ditemukan di makam Leluhur Semidang Empat Dusun yang terletak di Maras, Talo. Tulisan tersebut ditulis di atas kulit kayu dengan menggunakan huruf yang menyerupai huruf Arab kuno. Namun sayang sekali sampai saat ini belum ada di antara para ahli yang dapat membacanya.

Berdasarkan cerita para orang tua, suku bangsa Serawai berasal dari leluhur yang bernama Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Asal-usul Serunting Sakti sendiri masih gelap, sebagian orang mengatakan bahwa Serunting Sakti berasal dari suatu daerah di Jazirah Arab, yang datang ke Bengkulu melalui kerajaan Majapahit. Di Majapahit, Serunting Sakti meminta sebuah daerah untuk didiaminya, dan oleh Raja Majapahit dia diperintahkan untuk memimpin di daerah Bengkulu Selatan. Ada pula yang berpendapat bahwa Serunting Sakti berasal dari langit, ia turun ke bumi tanpa melalui rahim seorang ibu. Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa Serunting Sakti adalah anak hasil hubungan gelap antara Puyang Kepala Jurai dengan Puteri Tenggang.

Di dalam Tembo Lebong terdapat cerita singkat mengenai seorang puteri yang bernama Puteri Senggang. Puteri Senggang adalah anak dari Rajo Megat, yang memiliki dua orang anak yakni Rajo Mawang dan Puteri Senggang. Dalam tembo tersebut kisah mengenai Rajo Mawang terus berlanjut, sedangkan kisah Puteri Senggang terputus begitu saja. Hanya saja ada disebutkan bahwa Puteri Senggang terbuang dari keluarga Rajo Mawang.

Apabila kita simak cerita tentang kelahiran Serunting Sakti, diduga ada hubungannya dengan kisah Puteri Senggang ini dan ada kemungkinan bahwa Puteri Senggang inilah yang disebut oleh orang Serawai dengan nama Puteri Tenggang. Dikisahkan bahwa Puyang Kepala Jurai yang sangat sakti jatuh cinta kepada Puteri Tenggang, tapi cintanya ditolak. Namun berkat kesaktiannya, Puyang Kepala Jurai dapat melakukan hubungan seksual dengan puteri Tenggang, tanpa disadari oleh puteri itu sendiri. Akibat dari perbuatan ini Puteri Tenggang menjadi hamil. Setelah Puteri Tenggang melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Tolak Merindu barulah terjadi pernikahan antara Putri Tenggang dengan Puyang Kepala Jurai, itupun dilakukan setelah Puteri Tolak Merindu dapat berjalan dan bertutur kata.

Setelah pernikahan tersebut, keluarga Puyang Kepala Jurai belum lagi memperoleh anak untuk jangka waktu yang lama. Kemudian Puyang Kepala Jurai mengangkat tujuh orang anak, yaitu: Semidang Tungau, Semidang Merigo, Semidang Resam, Semidang Pangi, Semidang Babat, Semidang Gumay, dan Semidang Semitul. Setelah itu barulah Puyang Kepala Jurai memperoleh seorang putera yang diberi nama Serunting. Serunting inilah yang kemudian menjadi Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Serunting Sakti berputera tujuh orang, yaitu :
* Serampu Sakti, yang menetap di Rantau Panjang (sekarang termasuk marga Semidang Alas), Bengkulu Selatan;
* Gumatan, yang menetap di Pasemah Padang Langgar, Lahat;
* Serampu Rayo, yang menetap di Tanjung Karang Enim, Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT);
* Sati Betimpang, yang menetap di Ulak Mengkudu, Ogan;
* Si Betulah, yang menetap di Saleman Lintang, Lahat;
* Si Betulai, yang menetap di Niur Lintang, Lahat;
* Bujang Gunung, yang menetap di Ulak Mengkudu Lintang, Lahat.

Putera Serunting Sakti yang bernama Serampu Sakti mempunyai 13 orang putera yang tersebar di seluruh tanah Serawai. Serampu Sakti dengan anak-anaknya ini dianggap sebagai cikal-bakal suku Serawai. Putera ke 13 Serampu Sakti yang bernama Rio Icin bergelar Puyang Kelura mempunyai keturunan sampai ke Lematang Ulu dan Lintang.